Tampilkan postingan dengan label DANDELION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DANDELION. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2022

Waktu Untuk Tumbuh Kembali

Ketika engkau dilahirkan, engkau secara otomatis telah menerima segala yang tersaji di dalam samudera kehidupan. Tenangnya ombak ataupun tingginya gelombang, semua adalah sajian yang harus dinikmati oleh insan yang telah lahir ke dunia.

Kadang dunia begitu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Hingga tak terkira dan tak mampu lagi diungkapkan dengan diksi apapun. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya dan berusaha terbiasa dengan hal itu.

Hidup tak selalu tentang kebahagiaan. Adanya adalah silih berganti tentang keadaan derita dan bahagia untuk mencapai keseimbangan.

Semua orang merasakannya.

Hanya kadang sedikit yang mau belajar memahaminya.

Semua respon atau tindakan yang terjadi ketika diterpa oleh musibah atau kesusahan, baik atau buruk respon atau tindakan itu sangat bergantung dari pemahaman seseorang dalam mengelola hati dan pikirannya.

Tindakan yang ia ambil itu adalah ukuran untuk bisa mengetahui, seseorang itu telah belajar memahami cara kerja kehidupan atau sebaliknya.


Bukanlah bermaksud untuk menjadi naif.

 

Perasaan sedih, kecewa, marah dan apapun yang tidak menyenangkan yang hadir dalam diri setelah sebuah peristiwa buruk terjadi pasti akan mendatangkan perasaan itu.

Dan adalah hal yang sangat wajar.

Menangis, memilih untuk sementara sendiri adalah cara-cara yang sering diambil

Merasakannya adalah hal wajar. Cara menyikapinya, disitulah akan menjadi penilaian diri bagi setiap orang.

Hidup memang kadang menawarkan kejutan-kejutan.

Peristiwa tak terduga yang membuat ruang hati terobrak-abrik.

 

Untuk mendapatkan kedamaian kembali

Kita tak boleh melawan perasaan tersebut

Kita hanya perlu mengamatinya, memberinya ruang akan keberadaannya

Dan waktu akan membuatnya untuk perlahan melenyap

 

Hanya jika kita memahami hal tersebut, kita tidak akan jatuh pada tindakan-tindakan yang dapat kita sesali nantinya

Kesadaran kita mengelola diri pada saat peristiwa buruk itu datang adalah sebuah kecerdasan untuk menjadikan diri menuju penemuan kedamaian

Kita memang takkan pernah lepas dari perkara yang tidak menyenangkan hati

Tapi kita selalu punya pengetahuan untuk bisa mengendalikan diri untuk menjadi tenang kembali

 

Kuncinya ada pada diri kita sendiri

Sejauh apa kita ingin memahami

Ilmu hidup yang sudah semestinya kita pelajari

Sejak dini

Sejauh itu kita akan mendapatkan ketenangan hati

 

Sumber pengetahuan datang dari banyak tempat. Dari teori buku, dari cerita diskusi pengalaman orang lain, atau dari pengalaman kita sendiri.

 

Peristiwa yang terjadi di luar ekspektasi, tak dapat kita kontrol sama sekali

Mungkin akan selalu terasa berat diawal.

Menyulitkan dan melelahkan.

Menyakiti perasaan.

 

Tapi suatu hari

Seiring berjalannya waktu

Semua akan mereda


Mungkin akan meninggalkan jejak yang tak disenangi

Namun kita hidup tidak mungkin dapat menyenangkan semua orang

Karena kita pun sadar ada banyak orang yang kurang kita senangi atas perbuatannya

Disisi ini adil bukan?

 

Bersabarlah

Yang terbaik tak selalu datang dengan cara yang nyaman

Musim semi selalu di dahului oleh musim gugur

Sebuah pucuk baru akan muncul setelah ia dipatahkan

 

Karunia Allah yang terbaik terkadang melewati ujian berat yang harus di jalani oleh manusia

Penerimaan dengan ikhlas, walau prosesnya menyesakkan dada

Adalah cara yang tak bisa ditawar

Untuk sampai pada posisi yang damai

 

Suatu hari engkau akan mengingat ini sebagai sebuah pelajaran berharga yang pernah engkau lewati


---
Aku menulis ini untuknya di bulan Juni yang lalu, tepat dimana dia telah melepaskan diri dari perjuangan di organisasi yang telah dilakukannya selama beberapa waktu.

Kini, tak pernah kuduga bahwa aku akan menemui tulisan ini dengan menyadari, bahwa aku telah melakukan hal yang sama yang telah dilakukannya.

"Melepas"

Mahabesar Tuhan dengan segala takdir yang telah diberikannya.

Semoga kita semua selalu dalam penjagaan Allah.

Senin, 24 Oktober 2022

Jangan Jauh Dari Al-Quran

Sedari tadi hatiku merasa cukup gelisah. Aku juga heran, padahal aku merasa sudah cukup melakukan apa yang perlu untuk menenangkan hatiku. 

Sesaat kemudian, aku melihat grup untuk mengecek jadwal short course ngafal quran. Hanya untuk memastikan apakah ada informasi penting atau tidak sebelum tanggal 30 oktober untuk Hari Orientasi Pembukaan kegiatan. 

Ternyata saya menemukan informasi lain. Kuota untuk ikhwan masih kurang. Aku lalu terpikirkan untuk mengirimkan pamflet itu ke beberapa orang. Entah kenapa, niat ini mencairkan hatiku yang tadinya gelisah menjadi sedikit lebih tenang. 

Aku sering takjub dengan keajaiban al-Quran. Padahal ini hanya usaha menyebarkan pamflet untuk ajakan ngafal quran bareng. Aku seolah dapat sihir ketenangan hanya dengan niatan ingin mengajak mendalami quran bersama teman-teman yang lain. Yang tadinya merasakan kegelisahan yang tak jelas, seperti tiba-tiba saja tercabut, lalu beranjak menjadi lebih adem dan berpengaruh pada pikiran  lebih bisa terkontrol. 

Belum juga dihafal, baru sampai niat dan mengajak yang lain, tapi al-Quran memberikan cahayanya kepada makhluk yang sedang lemah. Betapa luar biasanya. Lebih dari kata luar biasa, aku tak bisa mendeskripsikannya.

Lantas dengan alasan apa diri manusia Islam jauh pada kitabnya? Kitab yang menjadi cahaya kehidupan yang akan membantunya untuk lebih dekat pada Tuhannya dan menabung bekal untuk menuju akhiratnya?

Kita perlu mendidik diri untuk mencintainya. Mencintai al-Quran yang akan menjadi syafaat bagi manusia di akhirat nanti. 

Aku sadar bahwa yang akan menolongku di akhirat hanyalah kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dunia. Termasuk pengamalan membaca al-Quran, mengkaji maknanya, merenunginya, dan mengamalkan isinya. Mungkin harus sedikit memaksa diri karena begitu besar godaan duniawi, dan kita tak boleh kalah dari godaan. Harus bisa mencintainya (al-Quran) agar mendapat cinta lebih banyak dari Allah. 

Jangan jauh dari al-Quran. Dunia hanya sementara. Mari memerangi kebodohan dengan lebih banyak berinteraksi dengan Quran. Untuk memelihara ketenangan batin dalam perjalanan hidup yang singkat ini.

Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang begitu saja, mau sampai kapan? Berikan keistimewaan perlakuan pada kitab al-Quran.



Rabu, 12 Oktober 2022

Tidak Apa-Apa, Diikhlaskan

Selama ini kamu terlalu mencari-cari pembenaran untuk mendapatkan validasi bahwa 'itu' cocok. Selama ini sebenarnya kamu sudah sering dapat sinyal, hanya saja kamu selalu mengabaikannya. Kamu menganggap bahwa itu bukanlah sesuatu yang penting. Selama ini kamu takut menyesal tapi sepertinya saat ini kamu sudah benar-benar sadar, kamu memang harus mendapatkan hal itu. 

Tak perlu dipungkiri. Akui saja perasaanmu. Jangan membohongi diri sendiri. 

Kamu sudah diberikan pembelajaran sekian kali, dan harus seberapa banyak untuk bisa mengerti?

Mungkin harus bisa bertanya, baru bisa benar-benar paham. Tapi sayangnya, kamu tak pernah membicarakannya. 

Kesadaranmu membawa untuk mengakui bahwa kamu tak berhak mengatur apapun, karena tak ada yang benar-benar mengikat, kebebasan adalah bagian yang masih menjadi nomor satu pada masing-masing. 

Maka, kamu tak berhak marah jika yang dilakukannya tak kamu sukai. 

:) Kamu bahkan untuk mengatakan secuil pertanyaan itu, kamu hanya memilih diam. Apa itu yang dinamakan sebuah harmoni? 

Seharusnya tak perlu mencari-cari kepada yang lain untuk mendapat dukungan, kamu hanya perlu menyelami hati sendiri, apakah kamu bisa benar-benar menerima sikap-sikap itu?

Saat kamu menyelami dirimu semakin dalam, kamu semakin memahami kekontrasan itu semakin melebar. Dan kamu selalu mengatakan tidak apa-apa. Lalu kamu lanjutkan untuk mengikuti pikiranmu bahwa semua bisa dikompromikan.

Kali ini, kata Tidak apa-apa itu berangsur menuju wujud aslinya. Tidak apa-apa yang bermakna untuk mengikuti realitasnya. Bukan lagi Tidak apa-apa yang mau mengompromi apa yang kontras.

:) Kali ini, kamu tak perlu kaget. Walau tetap terasa mengiris. Seperti jeruk nipis yang diperas diatas luka. Untunglah, lukanya tak separah yang lalu. Luka itu sudah sedikit mengering. Tapi seperti yang kukatakan, walau sudah sedikit mengering, jika diberi perasan jeruk nipis, tetap terasa mengiris.

Aku tahu ini sulit. Aku hanya manusia biasa. Dan bila memang tak pernah bisa untuk dijalankan pada poros ideal, aku saja yang mengalah. Tidak apa-apa. Diikhlaskan. 

Selasa, 04 Oktober 2022

Lorong Waktu

Di sore hari yang sendu, ditemani cuaca yang juga sendu, aku bersama seorang temanku menyusuri jalan menuju sebuah tempat. Sambil memakai payung, kami berusaha untuk terus menyusuri jalan  menuju tempat itu.

"Harus banget ya sekarang? Malah hujan gini, rul. Sekalipun pake payung tetap aja ada basah-basahnya" - ucap temanku.

"Harus. Gapapa dah basah-basah sedikit, intinya ga basah semua, hehe" - aku menimpalinya.

"Lu itu emang ga bisa nahan diri ya. Ini kali kedua kamu ajakin aku kayak gini. Kok bisa aku nemu makhluk kayak kamu di bandung ini?" - jawabnya lagi seolah-olah kesal

"Lah lu mau-mau aja diajakin, aku kan ga pernah maksa. Kalo mau pulang, aku selalu mempersilakanmu melakukannya" - aku seolah-olah pasrah

"Hidihh, ntar ada apa-apa baru ngeluh. Kemarin kaki lu sakit itu karena lu ga ngajakin aku tuh. Untung semesta baek cepat ngasih kamu pertolongan. Aku juga ga mau dicap oleh semesta sebagai temen yang ga ada gunanya" - ujarnya

"Hahahahahah, jadi aku penting nih di hidupmu? Ciee" - aku menimpalinya lagi

"Dah lah ah. Itu payungnya diturunin deh, udah ga hujan. Ini pasti hujannya denger percakapan kita, lihat kita jalan kayak gini, jadi ikut kasihan makanya dia berhenti" - dia ngomong sekenanya

"Suka sotoy emang lu. Tapi tetap sayang, wkwk" - aku terkekeh sendiri dengan omonganku

Dia tak menjawabku lagi. Dia mungkin tak mendengarku karena jalannya sudah lebih cepat. Namanya Arumi. Dia cukup humble. Sangat penyayang. Sebulan yang lalu aku dipertemukan di taman kampus belakang rektorat. Waktu itu dia yang duluan mengajakku berkenalan. Aku seperti biasa ketika seseorang mengajakku berbicara kutanggapi dengan sebutuhnya. Entah kenapa, kita bisa lebih cepat akrab dan bisa begitu cepat nyambung dengan berbagai topik pembicaraan.  

"Rul, apa yang suka kamu galauin?" - Arumi bertanya

"Apa ya? Aku sering mikir kira-kira aku ini ada gunanya ga ya nanti? Ya mungkin sekitaran itu, nilai guna diri dalam hidup" aku ngomong saja sesuai yang ada di pikiranku

"Jiaaah, bahasa lu ilmiah banget. Tapi cakep juga sih. "Nilai guna diri" artinya kalo disederhanain itu manfaat diri kan? Kok bisa kamu galauin itu?" Dia menimpaliku

"Ilmiah apanya? Biasa aja tuh. Lu yang suka melebih-lebihkan. Kok bisa itu yang digalauin? Sebenarnya ga galau-galau bagaimana sih, ga kayak galau orang bucin yang ditinggal kekasihnya. Seringnya kayak cuman mikir, aku nanti ada manfaatnya ga ya? Maksudku, apa iya aku nanti benar-benar punya peran yang signifikan? Dan lain-lain" aku menjawab pertanyaan arumi

"Kalo lu mau ngomong galau karena rinduin si dia, itu juga gapapa kok aku ngerti. Hahaha. Eh tapi sebenarnya aku tuh mau ngomong gini ke kamu, 'apa yang kamu lakuin hari ini akan menjadi bekal untukmu nanti. Mungkin ga ngejamin profesi ini itu, tapi aku yakin sih semua yang kamu dapatkan sekarang ini jadi sesuatu yang berarti suatu saat nanti. Jadi sebenarnya menurut aku, kamu ga perlu galau-galauin masa depan. Terkhusus tentang nilai kebermanfaatan. Ya lakuin aja apa yang bisa kita lakuin. Kadang kita tuh terjebak dengan ekspektasi sendiri kan? Kalo ga jalan seideal yang kita mau ngerasa kita itu udah gagal banget gitu? Padahal kan, Tuhan itu mahabaik. Kalo ga ngabulin ideal yang kita maksud, pasti Tuhan akan memberi ideal yang baik menurutNya. Nikmatin aja tau. Jangan mikir-mikir berlebihan. Intinya hari ini kita usaha aja kan ya apa yang terbaik untuk di masa nanti, tapi jangan sampai juga mikirin yang masa depan terus. Hargain semua yang ada saat ini juga. Luangin waktu ke mereka yang ngasih kamu dukungan. Kamu jangan terlalu ngambis sehingga bikin orang-orang yang sayang sama kamu terabaikan'" Rumi berbicara panjang

"Aku ga selalu galau-galau tentang dia. Rindu sesekali itu wajar kan ya? Bagian dari proses kehidupan haha. Aku sama dia ga seperti orang lain tau. Nanti aja ngomong tentang dia. Btw makasih banget lo udah ngomong panjang-panjang. Aku sepakat sama omonganmu. Aku udah berusaha lakuin itu, rum. Cuman ya gatau aja pikiranku emang kayak suka berkelana kemana-mana. Kamu kan tadi nanya galauku seperti apa, ya aku jawab kek gitu aja" jawabku kepada arumi

Suasana sudah tidak semendung tadi. Tapi udaranya masih sejuk. Aku kini duduk berdua di bawah pohon rindang bersama Arumi. Tempat ini memang selalu menenangkan. Ga banyak orang yang  ngunjungin. Entah kenapa. Waktu itu juga ga sengaja menemukannya, alias kesasar hahaha dan akhirnya menemukan tempat ini. Aku kabari Arumi dan dia juga senang dengan tempat tersebut. Sejuk, sunyi, sehingga segala pembicaraan lebih bisa didengarkan dengan sepenuh hati.  Ada gazebonya juga jadi walaupun hujan tetap bisa dikunjungi. Malah makin menyenangkan. Aku bisa bermain hujan tanpa perlu diperhatikan oleh orang-orang. Tapi hujannya sudah berhenti. Sekarang sisa menikmati bekas-bekasnya saja dengan bau petrikor yang menghambur. Bau khas setelah hujan. 

"Rum, kamu tahu satu hal yang sulit dihancurkan oleh waktu?" Tanyaku

"Gak. Apa emang?" Jawabnya

"Kenangan" Jawabku

Rumi hanya terdiam dan aku kembali melanjutkan,

"Ditempat ini aku bisa mendapatkan diriku untuk menyusuri lorong waktu, rum. Lorong waktu yang membuatku merasakan keindahan yang pernah terjadi di hidupku, di waktu yang tak dapat lagi kugenggam saat ini. Kamu tahu kenapa aku mengajakmu kesini kan? Aku merindukan seseorang. Semalam beberapa kali aku memanggilnya. Dia yang telah melahirkanku dan kini telah berumahkan tanah" aku tak kuasa menahan air mata, lalu menunduk menutup wajah

Rumi tak berkata apa-apa, kemudian berusaha merangkul bahuku. 

Aku rindu mama. 

Sabtu, 01 Oktober 2022

Tuhan, Terima Kasih dan Maaf dari Kami

"Bahkan waktu sedetik pun, kini aku berusaha memikirkan bahwa tak ada yang benar-benar luput dari kuasa-Nya. Lantas mengapa kita sering begitu khawatir(?)"

Yang benar saja, aku tak pernah berniat untuk menyampaikan langsung perasaan itu. Perasaan yang menggebu di kala aku sendiri, datangnya sering tiba-tiba. Kadang ketika aku bangun tidur. Atau ketika hendak tidur. Atau ketika aku selesai melaksanakan shalat. Sosoknya tiba-tiba memenuhi pikiran. Aku tak bisa menghalaunya. Dengan sekejap waktu, sering sengaja menghampiriku dalam berbagai keadaan. 

Ketika aku benar-benar merasakan perasaan itu, perasaan ingin bersamanya, ingin menyapanya secara langsung, aku tertegun kemudian. Aku kadang memeluk diriku sendiri dan kemudian aku benar-benar melewati waktuku dengan penuh perasaan yang tak bisa kusampaikan dengan detail. Sedih? Bukan. Senang? Sangat bukan. Bukan keduanya. Bagaimana menjelaskan perasaan ini? Aku tak tahu memaparkannya dengan detail. 

Jika telah selesai melewati waktu memikirkan satu nama itu, aku akan mencari ketenangan dengan menyampaikan perasaanku kepada yang memiliki hatiku. Kepada Dia yang menjadikanku untuk memiliki perasaan ini. Kepada Dia yang membuatku memiliki perasaan kasih dan sayang kepada satu orang itu. Aku kepada sang penciptaku tak ingin menyembunyikan sesuatu atas perasaanku. Meski aku tahu Tuhan selalu tahu apa yang aku rasakan. Aku menyampaikan seluruh apa yang kualami, dan aku selalu meminta pertolongan dari-Nya untuk dikuatkan dalam keadaan ini. 

Hingga pada satu hari, seseorang itu membuatku semakin mencintai Tuhanku, membuatku tertegun lebih dalam, dan membuatku sadar bahwa Tuhanku benar-benar mengasihi diriku. 

Seseorang itu bertanya kepadaku 'apakah kamu merindukanku?'. Dalam hatiku hanya ingin berkata, betapa luar biasanya semesta mendukung perasaanku. Tuhan membuat semesta tunduk dan berjibaku membuat seseorang itu mengetahui isi hatiku. Tapi aku tak langsung mengaku. Ada rasa malu. Dan kemudian dia kembali berkata 'aku jarang mendapati mimpi yang seperti sangat nyata. Pesanmu disampaikan langsung kepadaku lewat mimpi'. Dan  akhirnya aku mengakuinya.

Sebenarnya, bahkan seseorang itu mungkin tak akan pernah tahu bahwa aku merindukannya, aku tak pernah gusar. Karena ketika aku merindu, aku punya tempat terbaik untuk mengadukan perasaanku, kepada sang pencipta. Aku merasa belum pantas untuk mengadu langsung kepada dia yang aku rindu, entahlah, aku merasa kita masih bukan siapa-siapa. Kita hanyalah dua insan yang memiliki hati dan diizinkan memahami perasaan satu sama lain, merasakan kasih, namun  belum memiliki ikatan yang disyariatkan.  Maka aku hanya berusaha menjaga perasaan sebagaimana seharusnya perempuan menjaga.

Namun Tuhan memang sangat baik. Dia membantuku memberi tahu kepadanya apa yang kurasakan. Tapi aku tak berharap banyak. Aku tak ingin membuat diriku berangan-angan panjang. Aku syukuri semua yang terjadi, dan aku berdoa semoga Tuhan menjaga dia dan diriku dengan baik. Aku biarkan semesta kembali bekerja apapun yang akan dilakukannya kelak kepada diriku dan dirinya. 

Sesaat, aku sangat ingin menangis. Aku sungguh merasa bahwa aku dan dirinya terlampau banyak salah. Tuhan, aku selalu sadar bahwa perasaan cinta dari hati seorang manusia tak pernah lepas dari campur tanganmu. Maafkan atas kesalahan yang pernah terjadi atas respon cinta yang kami miliki. 

Kami sadar bahwa kami makhlukMu yang lemah, lemah atas iman kepadaMu. Bimbing kami untuk lebih banyak mencintaiMu. Bimbing kami untuk lebih banyak mengimaniMu. Jadikan perasaan kasih yang kami miliki selalu berlandas atas iman kepadamu. 

Tuhan, bimbing jiwa kami untuk tak pernah lepas dari kedekatan kepadaMu. 

Tuhan, terima kasih atas kasih sayangMu.

Tuhan, maafkan kami pernah melampaui batas. 



Kamis, 15 September 2022

Jika Kau Disini


Jika kau disini, aku akan mengenalkan dirimu kepada teman-temanku. Seperti yang biasa kau lakukan kepada teman-temanmu.  Yang sering begitu entengnya engkau mengajakku dalam perkumpulanmu. Lalu aku ingin mengajakmu ke tempat yang sejuk. Tempat yang selalu ku minta kepadamu untuk menemaniku saat aku masih disana, belum jauh seperti ini. Aku tak akan lagi bingung untuk mencari kemana tempat yang bagus. Tidak seperti waktu itu. Aku kadang merasa bersalah kepadamu karena membuat waktumu terbuang hanya untuk memikirkan tempat. Jangan kaget. Aku memang setidakenakan itu. Walau bahkan hal-hal kecil. Betapa aku sangat menghargaimu. Aku akan memutarkan lagu kesukaanmu. Silampukau, banda neira, fourtwenty, aku tahu yang kamu suka. Untuk waktu yang kumiliki ini, aku ingin membuatmu merasa senang. Dengan semampu yang kubisa.

Jika kau disini, aku akan duduk bersamamu, bercerita apapun yang kumau, menanyaimu apapun yang ada dipikiranku, hingga kau merasa bosan. Tapi aku berharap kau tak pernah merasa bosan denganku. Aku akan mendengarkan ocehan-ocehanmu. Kritikan-kritikanmu. Bahkan sekalipun aku harus menangis. Akan kubiarkan diriku. Karena setelah itu kau akan tertawa yang tak jelas yang sebab itu  akan memancingku untuk tersenyum. Aku akan mendengarkan segala yang ingin kau bicarakan.  Lalu aku akan menceritakanmu sesuatu yang tak pernah engkau dengar. 

Aku kemudian menatap sekeliling, dan menatap langit denganmu. Hingga malam tiba. Dan bintang menyapa kita. Aku begitu terharu ketika mendengarkan lagu yang dicover oleh Noah dengan judul ‘Aku dan Bintang’.

“Dan rasakan semua bintang, memanggil tawamu terbang ke atas, tinggalkan semua, hanya KITA dan BINTANG”

Aku ingin kau disini. 

Walau sebenarnya aku sudah menemanimu sejak dari tadi. Dalam ruang hampa yang kumiliki. Ruang yang selalu memanggil namamu seolah tak pernah ingin untuk diabaikan barang sejenak. 

Ruang mewah bernama imajinasi.

Tapi semewah apapun itu

Imajinasi hanya imajinasi 

Hanya menawarkan separuh sisi 

Tak pernah utuh

Jumat, 09 September 2022

Suaramu

Ku cek kembali dokumentasi-dokumentasi terakhir kita bertemu. Perjalanan tanpa peta. Perjalanan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Aku teringat drama korea berjudul "Start Up" yang booming di tahun 2020 lalu, 'perjalanan tanpa peta' yang diistilahkan nam dosan kepada seo dalmi. Ia mengatakan hal itu pada saat menjalankan sebuah project bisnis dalam timnya.  Yang saat itu tersendat dan mengalami banyak persoalan dengan mentornya Han Jepyong. Perencanaan memang sangatlah penting. Tapi sesekali, berjalan tanpa peta memberi gairah yang tinggi untuk menapaki jalan menuju hal-hal yang tak terduga. Yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Mental penerimaan resiko tentu haruslah besar. Dan seseorang yang menerimamu melakukan itu perlu kau genggam erat. Karena kau tak akan menemukan orang yang sama sepertinya.  Nam dosan meyakinkan seo dalmi bahwa apapun hasilnya semua akan menjadi pengalaman berharga. Kita hanya perlu berani melakukannya.

Dan kuberanikan diri mengikuti alurmu. 

Kutelusuri kembali rekaman-rekaman itu. Dan tadaa. Aku menemukan satu video yang kusukai. Aku merekam pemandangan jingga di ufuk barat langit, dan aku bersenandung lirih 'bahagiaku cukup sederhana'. Engkau datang menghampiri dan mengatakan sesuatu padaku. Aku mengatakan 'iye' dan engkau memperhatikanku merekam. 'ckckck' begitu responmu.

(Somewhere awesome)

Aku begitu senang ternyata di beberapa rekaman ada suara-suara yang tak pernah sengaja untuk ku rekam. Aku berniat merekam hanya untuk mengabadikan pemandangan. Lalu aku baru sadar beberapa percakapan juga ternyata ikut terekam. Dan itu cukup mengobati perasaan rindu. Tuhan sangat baik, ya? Ketika perasaanku tak begitu besar untuk menciptakan bincang, aku diarahkan untuk mencari rekaman-rekaman itu. Aku merasa lega. Walau tak sempurna. Aku tetap bersyukur akan hal demikian. 

Kemarin aku kembali bermimpi. Dan engkau berkata padaku 'tak apa-apa jika kau ingin pergi'. Aku tak tahu bagaimana awal mimpi itu. Aku tak mengingat sama sekali. Aku hanya ingat sepenggal kalimat itu. Tapi aku tak memikirkannya jauh. Aku biarkan saja begitu. 

Aku tak ingin mengabarimu hanya untuk memberi tahu hal itu. Kau mungkin akan bosan mendengarku. Tapi jika kau membaca tulisan ini, entah bagaimana responmu. Aku tak tahu. Apapun itu, aku hanya ingin bilang, 'aku sering terngiang lirik lagu last child - seluruh nafas ini. Aku tertegun pada lirik 'kita pernah lewati, rasa yang pernah mati, bukan hal baru bila kau tinggalkan aku''

Lalu kemudian berlanjut 'tanpa kita mencari, jalan untuk kembali, takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku'.

Aku tak tahu bagaimana semesta membingkai semua ini ke depan nanti.

Sejenak aku ingin hening. Aku ingin memahami diriku kembali. Karena aku sadar, aku punya banyak kekurangan yang butuh kubenahi sendiri. Dan aku tahu, kau pun begitu. 

Aku tak akan membuatmu terganggu selama beberapa waktu. Aku tahu bahwa kau pun sedang menata hidupmu kembali. Semoga Tuhan menuntunmu menjadi pribadi yang semakin baik.

Aku senang mendengar suara-suara kala di tempat itu. Aku memang sangat melankolis ya? Bahkan hanya dengan suara sesederhana itu, hatiku melembut, dan pipiku menjadi lembab. Bukan cengeng, hanya rindu. 


Sabtu, 27 Agustus 2022

Kadang


Layaknya anak kecil
Sering waktu dilewati dengan perasaan yang begitu asik
Saling bercengkerama seperti tanpa beban
Menikmati apa yang ada dengan sangat bersahaja
Saling memberi apa yang bisa diberikan

Lalu kadang
Menjadi egois terhadap diri masing-masing
Jika sudah diam-diaman 
Semua mencoba untuk memilih sibuk pada yang lain
Padahal tahu apa yang diinginkan

Sekadar untuk menyapa
Sekadar untuk kembali bercerita
Sangat sulit rasanya

Mungkin harus menunggu momen apa lalu bisa kembali berbincang
Seegois itu memang
Padahal tahu hal itu tak menyenangkan
Tapi cukup rumit untuk mengurai keegoisan

Tubuh dewasa memang tak pernah lepas dari jiwa anak kecil
Mungkin kadang memang harus seperti itu

Apa ini bagian dari uji kesabaran?
Atau satu cara untuk menyiksa perasaan?

Haha

Segala dinamika kadang memang perlu ditertawakan
Agar tidak membikin muram kehidupan

Pada akhirnya
Pilihan jatuh dengan diwakili kata 
"yasudah, nikmati saja"

Prosa ini akhirnya ditutup dengan kalimat
"semoga selalu baik-baik saja dimana pun sekarang berada"

Senin, 22 Agustus 2022

Senyum Mama

Sabtu, 20 Agustus 2022.

Awal keberangkatan untuk merantau di tanah jawa. Waktu duhur menjadi penanda. Menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Boarding pun tiba. Lalu take off, tibalah ragaku meninggalkan kampung kelahiran, meninggalkan orang-orang dekat. Ragaku meninggi di angkasa. Menerjang awan, mengarungi udara.  Landing dua jam kemudian di Bandara Soekarno Hatta. 

Travel yang telah kupesan delay. Hampir dua jam. Untunglah ada seseorang menjadi teman bicara sehingga waktu tak begitu lama terasa.

Ketika perjalanan menuju kos, saya tertidur  beberapa lama. Setelah terbangun, langit sudah gelap, hanya ada cahaya-cahaya lampu kota yang menyinari. Mungkin juga cahaya bulan namun tak nampak kelihatan di mataku karena ragaku berada di dalam ruang kecil beroda bergerak di tengah jalan.

Sesaat saya menoleh ke arah jendela. Saya seolah melihat sosok yang telah begitu lama tak pernah kutatap wajahnya. Terakhir tahun 2018 dan ia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Seolah wajahnya menghiasi semesta dengan senyum santun nan sederhana persis ketika dulu mengantarku setiap hendak menuju makassar untuk kuliah. 

Ia. Dia mama. Dia tak mengucapkan apa-apa. Dari wajahnya dan dengan senyumnya, juga tatapannya yang begitu dalam, ia hanya mengisyaratkan sesuatu, seperti hendak mengatakan "jaga diri nak" ya hanya itu. Dan tak kusangka air mataku mengalir. Aku segera menyelanya agar tak dianggap kenapa-napa oleh orang di sampingku. 

Beberapa saat saya tak bisa membendung pusaran air mata ini. Lalu kuhela nafas, berusaha menenangkan hatiku. Jiwaku terasa sangat emosional melihat wajah mama mengikutiku. 

Kueratkan baik-baik pesan itu dalam hatiku, dalam pikiranku, dalam jiwaku. Kupejamkan mata. Dan kurasakan, kusadari dengan penuh betapa besar nikmat Allah untuk hidupku. Bukan hanya tentang mama. Juga tentang seluruh penghidupan yang telah aku dapatkan hingga titik ini. Aku berusaha mengingatinya satu persatu. Dan kusyukuri sepenuh hatiku. Juga ku istighfari segala dosa-dosaku. Aku tahu aku tak suci. Begitu bergelimang kesalahan diri. 

Demi mama, demi semua yang kusayangi,  demi diriku sendiri, aku meniti jalan hidupku untuk mengabdi sebaik-baik yang mampu kujalani. Dan untuk sesuatu yang lebih besar dari hidupku sendiri, kepadaNya aku berserah diri. 

Minggu, 14 Agustus 2022

Lagi

Kita hanya perlu jujur. Jika tak bisa secara langsung. Silakan tulis perasaan itu lewat tulisan. Asli ini memang salah satu metode penyembuhan yang sangat efektif. Air mata perempuan itu berhenti mengucur setelah dirinya selesai menuliskan apa yang jadi keresahannya. 

Lalu setelah beberapa menit selesai menulis, dirinya mendapatkan sebuah tulisan dari instastory teman instagramnya. Kalimatnya begini "Semua masalah pada dasarnya memang hanya perlu dibalik" 

Hmm paham maksudnya? Jadi katanya artinya itu begini. Semisal kita sedang merasa sedih hari ini karena tidak bisa melakukan sesuatu yang telah kita rencanakan dengan seseorang yang kita inginkan saat bertemu, maka dibalik saja. Kita bersyukur hari ini karena telah bertemu dengan orang yang kita ingin walau tak sempurna kita jalani. 

Cukup sederhana untuk melegakan hati yang sedang tak tenang.

Cara Tuhan selalu indah memberi kelapangan hati pada hambaNya. Semoga Allah selalu sayang kepada kita semua. Aamiin

Jumat, 12 Agustus 2022

Berulangkali dibuat jatuh cinta dengan cara-Nya

Fabiayyi 'aalaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan?

Jika kalian penasaran dengan ekspresi saya sekarang ini, bayangkan seseorang berada di alam yang luas, merasakan hembusan angin yang sejuk menerpa dirinya, kemudian memandang ke atas, dia kemudian menutup matanya,menghirup nafas dengan dalam, lalu menghembuskannya,dan mengucapkan kalimat yang tak henti-hentinya "alhamdulillahi rabbil alamin". Tenang dan sangat merasa diberkahi oleh sang pencipta. Menyadari segala nikmat Tuhannya yang tak pernah bisa dihitung olehnya, hingga akhirnya ia mengeluarkan air mata, tanpa sadar mengalir di pipinya.

Ya, seperti demikian. Perasaannya begitu terharu menerima kenyataan hidup hingga berada di titik ini. Sungguh, sangat indah sekali cara Tuhan membawa dirinya merasakan nikmat yang tak terkira. 

Jika kalian bertanya-tanya, nikmat apa yang saya terima, saya hanya ingin mengatakan bahwa nikmat tersebut adalah sesuatu yang sering tidak disadari sebagai sebuah nikmat. Sering terlupa untuk disyukuri. 

Seperti adanya struktur tubuh yang lengkap. Berfungsi dengan baik. Terutama otak dan hati. Kemampuan untuk bisa makan dengan baik, keamanan diri. Lalu memiliki keluarga, mendapatkan akses untuk mencari informasi lebih banyak, kemampuan untuk belajar lebih banyak, benda umum yang banyak dimiliki orang, laptop dan hape, memiliki al-quran, buku-buku bacaan, benda-benda kebutuhan sehari-hari mulai dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Memiliki teman. Kesehatan yang baik. Waktu luang. Kemampuan untuk beribadah. Memiliki masalah hidup. 

Beberapa orang mungkin ada yang tidak sama dengan apa yang telah disebutkan. Ada yang lebih banyak lagi nikmatnya. Telah memiliki pekerjaan. Telah diberi karunia pasangan, karunia anak, karunia menjalin keluarga baru. Dan banyak pula mungkin, nikmat yang disebutkan diatas tidak sama persis seperti demikian, namun di lain sisi, mendapatkan hal yang berbeda dan unik.  

Begitu besar nikmat Allah. Begitu besarnya. Satu nikmat yang menjadikan apa yang kita miliki dapat kita hargai sepenuh hati adalah NIKMAT KESADARAN, NIKMAT MENDAPATKAN PEMAHAMAN UNTUK BERSYUKUR DENGAN APA YANG KITA PUNYA.

Juga terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, semua adalah nikmat. Kenapa saya sebutkan bahwa memiliki masalah adalah nikmat, karena dengan masalah kita bisa bertumbuh. Kita bisa lebih banyak belajar. Mungkin ada banyak hal yang pernah terjadi di masa lalu, pun masa di titik saat ini. Baik kesalahan yang disadari atau kekhilafan, semua itu bisa menjadikan dorongan bagi diri kita untuk lebih banyak melakukan perbaikan dan meningkatkan cara kita untuk menjadikan hidup lebih baik. Karena jika kita tak pernah merasa punya kesalahan, boleh jadi kita berada dalam kondisi yang statis alias monoton, yang mana boleh jadi kondisi itu adalah kondisi yang salah. 

Oleh karena itu, setiap hari, setiap setelah melaksanakan shalat fardhu, doa yang tidak boleh hilang dalam munajat kita kepadaNya adalah memohon petunjuk atau bimbingan Allah menuju jalan yang lurus, jalan yang benar. Satu doa ini adalah penting setelah doa memohon ampunan karena kita tidak pernah tahu perbuatan mana yang kita lakukan dan menimbulkan dosa dan doa kepada orangtua sebagai salah satu bentuk bakti kepadanya.

Allah akan berikan keajaibannya ketika kita senantiasa menjadi hamba yang memohon untuk diberi kekuatan untuk mendapatkan jalan yang lurus. Dengan cara-cara yang tak kita duga. Allah akan selalu memberi kasih sayang kepada hamba-hamba yang senantiasa mengingat-Nya, dalam keadaan senang maupun susah. 

Sungguh, nikmat mana lagi yang akan kita dustakan? Segala yang kita nikmati hari ini dalam hidup adalah rezeki dari sang pemilik kehidupan. 

Betapa begitu terharunya ketika begitu banyak yang terjadi dalam hidup, baik yang awalnya dirasa menyedihkan maupun awalannya menyenangkan, kemudian terdapat sisi-sisi pembelajaran di dalamnya. Yang mana, atas kesadaran diri yang kita punya (atas izin Allah), menjadi sebuah sinyal bagi diri kita untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. 

Ketika kita mendapatkan informasi untuk menyelesaikan masalah misalnya, yang mana sebelumnya kita begitu bingung ingin mendapatkan pengetahuan dari mana dalam menuntaskan satu persoalan yang kita alami tersebut, lalu didatangkanlah peristiwa atau kejadian yang tidak kita duga. Dari kejadian itu memberikan kita sebuah petunjuk untuk menyelesaikan problem yang kita dapat. Sungguh, jika kita adalah orang-orang yang senantiasa berpikir dan memiliki hati nurani, maka tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri hal demikian dan merasakan sebagai satu nikmat besar yang telah diberikan Allah kepada kita. 

Membicarakan nikmat Tuhan tak pernah bisa sesingkat yang kita tulis,dan kedalamannya tak pernah bisa diungkap secara gamblang baik secara lisan maupun tulisan. Adapun yang bisa kita tulis hanya sepercik dari apa yang kita dapat. Yang bisa kita lisankan, hanya seperti setetes air di lautan. Maka dari itu, tak ada alasan sedikit pun untuk tak mengucap syukur di setiap waktu atas nikmat yang Tuhan berikan di dalam hidup kita. 

Fabiayyi 'aalaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan.

Terima kasih atas kasih sayang Allah. 

Kamis, 28 Juli 2022

Manusia dan Sang Pencipta



 Topan yang menyembunyikan langit
Angin pusar membawa salju
Sekarang ia mengaum bagai hewan buas
Sebentar kemudian bagai anak kecil
Ia merengut kelu

-Leo Tolstoy-

---

Semakin lama sebenarnya kita diuji oleh keyakinan kita sendiri. Kita diberikan soal-soal dalam hidup tentang apa yang kita anggap telah pahami. Seolah semesta belum yakin jika kita mengaku paham tanpa ada ujian praktik yang dijalani. Apakah kita lulus atau tidak? Entahlah. Boleh jadi kita mungkin sering gagal. Kita mengaku banyak tahu tapi gagal dalam tindakan. Sebagian yang lain mengaku bahwa lebih baik diakui atas apa yang telah salah. Sebagian yang lain mengambil alibi untuk membenarkan pilihan sikapnya. Dan yang paling inti adalah segala hal itu merupakan pertanggungjawaban dari tiap-tiap manusia atas sikap hidupnya sendiri. Seorang manusia kepada manusia yang lain tidak punya wewenang menghakimi. Karena ada yang lebih berhak untuk menilai segala perbuatan tersebut. 

Saya berlindung kepada sang pencipta dari segala godaan untuk menghakimi orang lain, memberikan penilaian-penilaian yang mungkin salah dari persepsi diri sendiri, baik secara lahir maupun batin. 

Segala yang terlihat dari orang lain adalah dimensi luar dirinya
Dan tak ada satu orang pun yang tahu bagaimana dimensi batinnya
Kita tak pernah tahu apa yang bergejolak di hati seseorang ketika mengungkapkan sesuatu, melakukan sesuatu dan menyifatkan sesuatu
Sebab karena itu, kita mesti berhati-hati dalam menilai seseorang
Jangan sampai kita menilai hanya berdasarkan dimensi batin kita
Bukan atas apa yang terlintas dari dimensi batin seseorang itu
-Maulana Jalaluddin Rumi-



Rabu, 27 Juli 2022

Randomly bersama Hesti


Hes, apa yang kedua dari keberanian? Seorang teman pendamping.

Hes, semua orang hebat dalam satu hal, tidak dalam segala hal.

Hes, kita belajar dari laut, semakin dalam semakin tak bergemuruh.

Hes, ujian kesetiaan selalu datang setiap hari, kita mesti memastikan setia pada yang tepat.
(Salah satunya setia untuk mengingat bahwa tidak ada yang benar-benar abadi di dunia. Maka berilah jarak aman untuk hati kita)

Hes,apa gunanya mata dan hati jika orang menilai hanya dengan telinga?

Hes, kenapa mereka pilih kasih? Mereka bisa memberi pengertian kepada yang lain tapi tidak kepada saya? Seperti saya dianggap orang yang paling superior. Padahal saya juga manusia biasa.

Hes, apa yang salah dari kejujuran? Bukankah itu yang utama? Kenapa mereka menjadi berbeda saat menerima kejujuran?

Hes, kenapa rasanya sedih saat kejujuran itu diabaikan?

Hes, saya tahu bahwa saya hanya bisa mengendalikan hatiku, pikiranku, perbuatanku. Kenapa tetap ada yang kurang menyenangkan untuk memahami respon dari apa yang kulakukan?

Hes, saya tak selalu kuat seperti yang mereka kira.

Hes, kadang-kadang saya menjadi begitu yakin. Lain waktu saya kembali menjadi ragu. Begitu tak sempurnanya diri menghadapi ketidakpastian.

Hes, jangan sungkan memberikan saya nasihat.

Hes... terima kasih sudah mendengarkan.

Jumat, 10 Juni 2022

RIP Eril: Tertawan Air, Bejibun Mata dibuatnya Berair

 

Jika Eril bisa melihat jelas bagaimana air mengantarkan hidupnya berakhir, melihat kepergiannya mencipta pilu dirasakan oleh jutaan insan di tanah air, yang diiringi oleh aliran doa begitu deras mengalir, ia pasti akan tersenyum penuh hangat dan mengucapkan rasa tulus terima kasih.

Berbahagialah Eril. Lembut hatimu diantarkan oleh jutaan kelembutan manusia menuju peristirahatanmu yang terakhir. 

---

Sebelumnya, saya tidak pernah tahu siapa Eril. Sebelum berita tentang dirinya tenggelam di sungai Aare Swiss, namanya tak pernah terdengar barang sekalipun. Hingga tiba satu waktu, setelah shalat Maghrib Jumat 27 Mei 2022, di rumah inap sementara di sebuah pulau, saya terdiam melihat berita di televisi memperhatikan kabar hilangnya anak Ridwal Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat, pada Kamis 26 Mei 2022.

Bertepatan dengan itu, kabar tentang cendekiawan Muhammadiyah, Buya Syafi’i Ma’arif berpulang kepada Allah. Saya tak dapat memungkiri, hati saya terasa senyap. Kusembunyikan air mataku dari teman yang sempat lewat di depanku. Kemudian untuk sedikit melegakan nafas, kuajak dia berbincang bahwa anak Gubernur Jawa Barat hilang di sungai Swiss.

Ia pada saat itu dengan sedikit tersenyum dan dengan nada bercanda menimpaliku dalam dialek Makassar ‘Kodong. Tapi bukanji urusanku, hehe’. Saya memakluminya dan sama sekali tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang salah. Alasannya cukup wajar. Pertama kami tak mengenal siapa anak Ridwan Kamil. Kedua pada saat itu, saya berbicara dengan sambil lalu, ia pun dalam raut wajahnya memberi kesan hanya sekadar menimpali sekenanya. Kami benar-benar tidak tahu sama sekali siapa dia yang tenggelam. Dan tidak ada niat mencari tahu karena jaringan di pulau tidak cukup bersahabat.

Di hari ahad, tepat waktu pulang sedari pulau, saya bersama teman-teman berpisah di pelabuhan dan kembali ke rutinitas masing-masing. Saat itu saya masih belum tahu sama sekali siapa itu Eril. Hingga pada akhirnya saya surfing di google dan mengetahui tentang seluk beluk kehidupannya. Pada awalnya, simpatik itu hanya sebatas rasa iba dalam ucapan. Kemudian mengiriminya doa setelah shalat fardhu dilaksanakan. Dan saya tak lagi memikirkannya.

Ketika hari Jumat tiba tanggal 3 Juni 2022, berita tentang Eril dinyatakan meninggal dan kabarnya diserukan shalat ghaib untuk dirinya. Hati saya menjadi tersentuh. Entah kenapa ketika mendengar kata ‘meninggal’ hal pertama terbersit di kepala saya adalah mama. Yang saya pikirkan saat itu adalah betapa sakitnya hati Ridwan Kamil kehilangan orang yang ia cintai, anaknya. Ingatan tentang mama yang telah berpulang tiga tahun lalu memenuhi pikiran. Betapa pedihnya hati keluarga Ridwan Kamil. Kehilangan anggota keluarga adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.

Di sepertiga malam, saya kebetulan terbangun dan tak lupa menyelipkan doa untuk Eril. Semoga dirinya ditemukan. Semoga dirinya ditemukan dalam keadaan selamat. Saya entah kenapa tetap mendoakan Eril untuk tetap hidup walau telah dinyatakan meninggal oleh pihak keluarganya.

Satu persatu kemudian saya mendapatkan berita tentang kehidupan Eril. Eril yang diceritakan oleh orangtuanya, sahabatnya, ustadz yang pernah mendidiknya, dosennya, dan perempuan yang dikasihinya. Kebaikan demi kebaikan yang pernah ia lakukan dikabarkan oleh mereka. Tentang dirinya yang mandiri, sangat menghormati guru, sikapnya yang low profile, kebaikan yang ia tebar lewat komunitas Jabar Bergerak Zillenial (JBZ), keaktifannya sebagai mahasiswa di kampus, menjadi asisten dalam mata kuliah, tugas akhir yang disusun dengan gagasan yang dapat membantu manusia di bidang kesehatan, serta tentang kecintaannya kepada air yang pada usia sebelas tahun telah direnungkannya. QS. Hud ayat tujuh tentang kuasa Allah atas perairan. Masyaa Allah. Kebaikan hidupnya tersingkap setelah ia tiada. Entah berapa banyak kebaikan lagi yang pernah ia lakukan.

Hingga tiba pada hari Jumat kembali, tertanggal 10 Juni 2022, di kamar yang menjadi istanaku setiap hari, saya membaca kabar tentang penemuan jasadnya di Bendungan Engehalde, Sungai Aare Swiss. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Eril ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, utuh, wangi seperti wangi eucalyptus dan tersenyum menoleh ke arah kanan. Begitulah sepenggal informasi yang terbaca. Tetiba hati menjadi sangat iba dan air dari mata tak terasa mengalir perlahan, tak dapat terbendung.

Yang saya pikirkan adalah betapa baik akhir hidupnya. Eril meninggal dalam kondisi tenggelam, pada saat ia sedang bersafar di Swiss mencari tempat untuk studi lanjutan bersama adiknya. Semoga Allah memasukkannya dalam golongan mati syahid dan husnul khatimah.

Kepergian Eril menyiramkan air keteladanan kepada bejibun manusia. Ada banyak kisah keteladanan di dunia ini. Ada banyak sekali. Dan darinya menambahkan satu contoh lagi. Menjadi manusia pilihan yang menegaskan kebesaran Allah, tentang menjadi hamba yang senang menebar kebajikan, akhir hidupnya diiringi simpatik dan doa kebaikan oleh jutaan manusia. Jasadnya yang tenggelam tetap utuh dan berbau wangi selama empat belas hari tidak ditemukan.

Dan Eril hanyalah manusia biasa. Diantara kebaikan yang tersingkap, dibaliknya bukan berarti ia tak punya salah. Namun tentang timbangan kebaikan dan kesalahan adalah ranah Allah yang menentukan. Disisa akhir usianya, kita semua diperlihatkan kejadian tentang perjalanan  manusia menuju sang pencipta dengan cara yang indah. Mungkin saja semua kebaikan yang pernah Eril lakukan, adalah kebaikan dengan ketulusan yang jernih untuk mengharap kemuliaan dari Tuhannya. Hingga pada akhirnya, Allah berikan balasan kemuliaan diakhir hidupnya, dan dimuliakan oleh penduduk dunia. Padahal banyak yang sama sekali tak mengenalnya. Begitu besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya.

Tentang kecintaannya kepada air, ia menarik kita untuk memahami lebih dalam konsep teologi air. Air sebagai sebentuk benda yang istimewa, dijadikan sebagai media terbentuknya kehidupan di jagat raya (QS. Hud: 7). Air sebagai bagian dari kehidupan manusia, yang tanpanya hidup manusia bisa menjadi sengsara, sehingga perlu untuk dijaga, perlu untuk dikelola dengan baik demi penghidupan yang layak untuk manusia. Kemudian air juga dijadikan manusia untuk bersuci. Suci untuk menyembah kepada ilahi. Atas kuasa Allah kita bisa hadir di muka bumi, dan kepada-Nya pula kita akan kembali. Dialah pemilik diri kita yang sejati.

Berbahagialah Eril. Yang mati muda. Meninggalkan jejak kebaikan. Tak semua orang bisa mendapatkan akhir hidup seperti demikian. Diiringi oleh banyak doa manusia. Diiringi dengan penuh kelembutan. Dan sangat dimuliakan. Engkau yang tertawan air dan begitu luar biasa menjadikan bejibun pasang mata menjadi berair. Kini, tenanglah dalam kedamaian. Kepergianmu meninggalkan keteladanan. Anak muda yang berdaya. Anak muda yang  beraksi, berkarya dengan setulus hati.

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” – QS. Maryam : 96.

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)” - QS. Ar-Rahman : 60

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” - QS. Al-Insyiqaq : 6

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afii wa’fu’anhu.


Penulis,

Nurul Fathanah.

Jumat, 29 April 2022

Ramadan dan Kematian

Sempat termenung mengingat kematian dan tak terasa ada air yang jatuh mengalir di wajah. Bulan ramadan kali ini cukup banyak berita tentang keluarga yang berpulang. Pulang kepada Allah Swt. Dan itu tak disangka-sangka. Maksud saya, kejadiannya begitu cepat. Juga beberapa orang lain yang saya kenal, juga telah berpulang. Tepat di bulan ramadan ini.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya)

Saya berdoa untuk semuanya, semoga Allah berikan ampunan untuk semua kesalahan dan diterima semua amal ibadahnya.

Apa yang bisa kita beri kepada orang yang telah berpulang? Hanya doa kita semata. Ia hanya menunggu itu. Semasa hidupnya, mungkin kita begitu banyak urusan hingga tak sempat bersilaturahim dengan mereka hingga pada saat mereka telah berpulang, hati terasa teriris mengingat mengapa pada waktu yang lalu tak sempat untuk bersilaturahim kepadanya.

Dan kita tak pernah bisa kembali pada waktu yang telah lewat. Sesuatu yang sangat jauh dalam hidup kita dan tak dapat digapai kembali adalah masa lalu. Oleh karena itu, hal percuma ketika kita terus berandai-andai dan menyesali apa yang telah terjadi.

Sehingga hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk mereka yang telah berpulang dan belum sempat kita temui pada saat akhir masa hidupnya, apalagi tergolong keluarga kita adalah mengirimkannya doa. Doa yang tulus dari hati kita untuk mengiringi kepergiannya. Semoga kuburnya dilapangkan dan di hari kemudian diberi tempat terbaik di sisi Allah Swt.

Menjadi pengingat bagi kita tentang kepergian mereka (kematian), untuk kembali menginstrospeksi diri tentang diri kita selama ini, ucapan, perbuatan dan semua yang telah kita lakukan. Mudah-mudahan Allah mengampuni semua kesalahan kita dan berkenan memberi pertolongan menjalani hidup dengan lebih baik di sisa hidup yang kita punya.

Tak pernah kita tahu kapan kita akan kembali kepada-Nya, dan kita memohon semoga mata kita tidak dibutakan oleh kefanaan dunia dan memperhatikan bekal untuk hidup di hari kemudian yang lebih kekal.

Sumber Gambar: Pixabay

Senin, 18 April 2022

YA RABBI, LEMBUTKANLAH HATI KAMI

@Masjid Agung Syekh Yusuf, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan

Bahwa tiada yang dapat menenangkan hati manusia kecuali ridha dari Allah Swt. Kegelisahan, ketidaktenangan yang dirasakan sering menjadi satu hal yang menyiksa diri manusia. Oleh banyak beban hidup yang dirasakan. Ketimpangan yang dialami. Kesenjangan harapan dan kenyataan yang dihadapi. Semua menyulut api dihati. Yang membuat diri menjadi kalut, sedih, depresi.

Kepada Allah, sang penggenggam hati manusia. Kami bersimpuh mengharap pertolongan-Mu. Apabila kegelisahan, ketidaktenangan yang kami alami adalah efek dari kesalahan dan dosa kami di masa lalu, ampunilah kami, ya Rabbi. Kami bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada-Mu. Astaghfirullah wa atubu ilaih. 

Ya Allah ya tuhan kami, atas segala beban yang menyiksa hati , kami memohon kepada-Mu, redakanlah perasaan ini. Bantulah kami untuk mengatasinya dengan sebaik-baik cara yang dapat kami lakukan. Berilah kami petunjuk-Mu yang benar, ya Allah.

Kami tak pernah bisa memungkiri bahwa perasaan yang tak menyenangkan seperti, gelisah, marah, cemburu, iri, jengkel, dengki, kecewa, dan lain sebagainya adalah rasa dalam kehidupan yang kapanpun bisa datang menghampiri. Rasa yang menjadi antithesis rasa kesenangan, kebahagiaan sebagai sebuah  wujud keseimbangan dalam kehidupan ini. Yang kami harapkan ya Allah, mampukanlah kami untuk mengendalikan semua perasaan ini.

Engkaulah tempat kami untuk kembali pulang dari perasaan yang tak nyaman kami rasakan. Engkaulah yang dapat memberikan kami kemampuan untuk memiliki kelembutan hati ditengah beban yang kami hadapi. Ya Allah, sungguh hanya dengan mengingat-Mu perasaan akan menjadi tenang. Jadikanlah hati kami untuk senantiasa lembut di segala keadaan yang kami dapatkan.

Tiada tempat untuk memohon harapan besar kecuali semua disandarkan hanya kepada-Mu.

Ya Rabbi, yang Maha lembut, ampunilah segala dosa kami, bantulah kami menjadi sebaik-baik hamba menjalani hidup di muka bumi ini.

Minggu, 07 Juni 2020

PETUAH IBU


­Jika dirinya masih ada disini, usianya tepat memasuki 43 tahun hari ini
Hari lahir Ibu, 7 Juni.

Iya. Dirinya termasuk orangtua dengan usia yang muda, memiliki 5 anak dan berusia 21 tahun untuk anaknya yang pertama, karena dulu ibu menikah diwaktu muda.
Motivasinya hanya satu: “Jika sudah memenuhi kriteria untuk apa ditunda?”
Haha, itu hanya pengantar teman-teman :)

Dirinya sudah berlabuh dipangkuan sang Pencipta. Doaku semoga jiwanya selalu mendapatkan ketenangan. Mohon doanya juga teman-teman:)
Ibu hanya lulusan SMA. Sempat mencicipi dunia perkuliahan di UIN Alauddin Makassar tahun 1995-1997, tapi tepat di semester 5 dirinya memutuskan untuk berkeluarga dan atas sebuah “pertimbangan” pendidikannya tak dilanjutkan.

Jurusannya adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Dari kecil ia senang mempelajari agama. Pernah saudara ibu bertutur kepada saya “Dulu, ibumu tak pernah mau masuk ke sekolah jika sekolahnya bukan sekolah yang memiliki siswi berjilbab” , karena waktu masih zaman Orba, sekolah yang ada di kampung jumlahnya masih cukup sedikit dan itupun kebanyakan siswinya belum memakai jilbab. Akhirnya masuklah ia di Madrasah, satu-satunya yang baru dibuka saat itu didaerahnya.

Karena hal itu, ia terdidik banyak akan pengetahuan agama. Tidak heran jika setiap tulisannya di beberapa buku catatan lusuhnya yang sudah berapa tahun berada di rumah senantiasa mengagungkan keberadaan sang “Pencipta”. Pesan-pesannya untuk orang-orang disekitarnya juga begitu, selalu mengajak untuk tekun menjadi sebaik-baik hamba kepada sang Pencipta. Ibuku bukan ustadzah, semasa hidupnya setelah berkeluarga hanya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga yang senang membaca dan belajar banyak tentang ilmu-ilmu agama.

Jadi, apa petuahnya?

1.       Hidup ini hanya sementara. Memiliki hati yang tulus dan pribadi yang memperhatikan nilai-nilai agama adalah hal yang utama. Dekatkanlah selalu dirimu kepada Allah. Akhirat adalah sebaik-baik tujuan.
2.       Ingat untuk selalu menyedekahkan reskimu yang kau punya kepada orang-orang yang membutuhkan, karena sesungguhnya mereka juga ingin merasakan kesenangan seperti yang kau rasakan. Dari reski yang kau dapatkan, tersimpan bagian untuk mereka.
3.       Ilmu duniamu boleh tinggi, tapi jangan sampai ilmu agamamu rendah
4.       Kepada siapapun kau berteman, jadilah pribadi yang jujur
5.       Mencela itu adalah perbuatan orang-orang yang merasa dirinya ‘SEMPURNA’. Adakah manusia yang sempurna? Kesempurnaan hanya milik sang Pencipta, jadi hargailah setiap orang sebagai sesama manusia.
6.       Perhatikan setiap perkataanmu, jangan sampai melukai hati orang lain
7.       Kamu dilahirkan tidak hanya untuk merasakan bahagia, ada sisi lain yang pasti kau temui yaitu derita. Maka bersabarlah.
8.       Hidup itu sederhana, perbaiki selalu hubunganmu kepada sang pencipta, dan hubunganmu kepada sesama. Insya Allah kedamaian akan kau terima.
9.       Jika kau menemukan ketidaksukaan, ucapkanlah dengan santun, jaga lisanmu untuk tidak mencerca
10.   Kebaikan akan mendatangkan kebaikan, jangan bosan untuk melakukan
11.   Jika tangan kananmu berbuat, tidak perlu membiarkan tangan kirimu untuk tahu
12.   Balas kebaikan orang lain dengan perlakuan yang lebih baik
13.   Jangan pandang seseorang dari rupanya, pandanglah ia dari sikapnya.
14.   Jangan terlalu memusingkan ucapan orang lain, jika itu tak sesuai dengan dirimu, abaikan saja dan tetap lakukan yang terbaik
15.   Syukuri apa yang telah kamu miliki
16.   Perhiasan dunia adalah perempuan shalilah. Berusahalah menjadi seperti demikian.
17.   Bantu antarkan orangtuamu ke Surga Allah dengan jalan menuntun dirimu pada kemuliaan akhlak.  Tidak ada keinginan paling besar dari orangtua selain memiliki anak yang berbudi mulia.
18.   Kesehatan itu harus kau perhatikan sejak sekarang. Jangan ikuti jejak Ibu. Kamu harus tumbuh bersama adik-adikmu menjadi lebih sehat daripada Ibu. Perhatikan dirimu, juga perhatikan mereka. (Kamu memegang sebagian tanggungjawab atas keberadaannya)
19.   Kuatkan jiwamu saat Ibu telah tiada

Hanya beberapa hal itu yang ingin kubagikan. Semoga bermanfaat.

Ini hanya hal-hal sederhana bukan? Tapi sayang kadang dilupakan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi teman-teman.
Hal sederhana yang fundamental.
Pendidikan Ibu tidak terlalu tinggi, tapi ia sangat sarat menanamkan nilai-nilai karakter.

 “Knowledge is power, but moral is more”

Raganya sudah lama pergi namun nasihatnya takkan pernah pudar hadir disini.
Allahummagfirlaha wa’afiha wa’fu anha

“Terpujilah selalu, wahai Ibu”